TGKH.HASANKRUENGKALEE
(TOKOH PELOPOR PENDIDIKAN ISLAM DI ACEH)
Riwayat Hidup
Tgk.H.Hasan
Krueng Kalee merupakan seorang ulama besar di Aceh. Beliau lahir pada tanggal
15 Rajab tahun 1303 H (18 April 1886) dalam pengungsian di Meunasah Ketembu,
kemukiman Sangeue, kabupaten Pidie setelah tiga belas tahun peperangan dahsyat
berkecamuk di Aceh antara prajurit kerajaan beserta rakyat Aceh dengan
serdadu-serdadu agresor Belanda . Tgk.H.Hasan Krueng Kale dilahirkan disana
sewaktu orang tuanya pindah dari Kutaraja(Banda Aceh sekarang) dalam rangka
mempertahankan ide-idenya untuk memperjuangkan Islam dari cengkeraman kolonialisme
penjajahan kafir Belanda.
Beliau adalah anak yang pertama dari seorang ulama besar di Aceh, yaitu
Tgk.H.Muhammad Hanafiah (Tgk.Chik Krueng Kalee 1) dan lebih dikenal dengan
sebutan Tgk.Haji Muda, seorang ulama besar yang memimpin Dayah Krueng Kalee
yang terletak di Kabupaten Aceh Besar. Ayahnya tersebut merupakan sahabat karib
dari pahlawan nasional Teungku Syekh Muhammad Saman Tiro (Teungku Cik Di Tiro).
Ayah dari Tgk.H.Muhammad Hanafiah ini juga seorang ulama besar yang bernama
Tgk. Syekh Abbas, putra dari seorang ulama besar pula yang bernama Tgk.Syehk
Muhammad Fadlil. Menurut catatan sebuah dokumen keluarga ulama Krueng Kalee,
ayah dari Tgk.Syekh Muhammad Fadlil juga seorang ulama besar; demikian pula
ayahnya lagi hatta tujuh turunan dari atas sampai kepada Hasan yang lahir pada
tanggal 13 Rajab 1303 H. Para ulama besar tujuh keturunan ini adalah yang
memimpin dan membangun dayah Krueng Kalee, sebuah lembaga perguruan Islam yang
cukup terkenal di Aceh, bahkan di seluruh Sumatra. Setelah keratin Darut Dunia
hancur menjadi puing dan ibukota Negara, Banda Aceh Darussalam, telah diduduki
tentara Belanda serta pusat pemerintah Kerajaan Aceh telah dipindahkan ke
pedalaman ,yitu ke Keumala Dalam di Kabupaten Pidie, maka Teungku Haji Muhammad
Hanafiah sebagai salah seorang mujahid ikut pindah bersama kelurganya ke
Kabupaten Pidie dengan tempat pemukiman di Kampung Menasah Ketembu, dan
disanalah lahir putranya yang pertama: Hasan.Sedangkan ibunya bernama Nyak Ti
Hafsah binti Syekh Ismail. Tgk syek Ismail ini lebih dikenal dengan nama Tgk
Chik Krueng Kalee II, yaitu anak dari Abdul Manik keturunan Arab yang datang
melalui Pasee. Sebelum beliau berada di Pasee, lahirlah seorang putranya yang
diberi nama dengan Ismail. Sebagai seorang da’i, beliau telah berjasa
mengembangkan dakwah Islamiyah dari satu daerah ke daerah lain sehingga
perjalanan beliau sampailah ke daerah Krueng Kalee.
Ketika sampai di Krueng Kalee, beliau menetap di daerah tersebut sehingga
memperoleh keturunan. Diantara keturunan beliau tersebut adalah; Hafsah(Istri
Tgk Muhammad Hanafiah), kemudian putranya Tgk Haji Hanafiah yang bernama
Muhammad Hasan (Tgk.H.Hasan Krueng Kalee) menikah dengan seorang putri dari
panglima Husen yang bernama Safiah. Menurut Muhammad Said dalam bukunya ’Atjeh
Sepanjang Abad’, Tgk Syiah ini adalah nama seorang bangsa Arab yang datang ke
Aceh, lebih kurang tahun 1564-1568 M. Beliau adalah salah seorang anggota
utusan dari 40 orang yang dikirim oleh Sultan Turki ke Aceh, bersama 200 meriam
tembaga. Rombongan tersebut dikirim ke Aceh dalam rangka membantu Kerajaan Aceh
yang dalam keadaan resah dan gelisah seirng datangnya para penajajah yang
mencoba menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam. Dan juga sebagai akibat perang
yang timbul di Aceh karena serang Portugis. Di antara utusan-utusan yang
dikirim itu ada yang menjadi penasehat dalam bidang Agama, militer, dan bidang
pemerintahan umum lainnya.Beliau mempunyai tiga orang istri. Istri pertama
beliau bernama Nyak Safiah anak dari Panglima Husen bin Panglima Muhammad bin
Panglima Gapeh, beliau adalah seorang anak Tuan Panglima Meuntroe (Menteri) di
Montasik dilahirkan di Keudah Malaysia. Hajjah Nyak Safiah adalah seorang putri
penglima Husen, kemudian putri panglima Husen tersebut setelah berumur lebih
kurang 10 tahun dinikahkan oleh Tgk Syekh Muhammad Arsyad (kawan akrab panglima
Husen Keudah Malaysia) dengan seorang murid beliau yang berasal dari Aceh yang
bernama Tgk.H.Hasan Krueng Kalee. Istri Beliau yang kedua bernama Aisyah (Nyak
Payet) yang berasal dari Manyak Payet-Aceh Timur binti Tgk Su’ud bin Abbas
yakni paman beliau sendiri. Adik ayahnya yang lain ibu dengan Tgk Haji Muda
(Tgk Haji Hanafiah). Sedangkan isteri beliau yang ketiga bernama Nyak Awan
binti Ishaq. Tgk Ishak ini adalah cucu Tgk Chik Lam Seunong, kecamatan Kuta
Baru-Aceh Besar. Beliau adalah guru Tgk Haji Muda (Tgk Haji Hanafiah). Dari
ketiga isterinya ini Tgk.H.Hasan Krueng Kalee dianugrhakan lima belas orang
anak, sembilan putra dan enam putri.Dari pengakuan dan data-data cucu-cucu
beliau, Tgk.H.Hasan Krueng Kalee meninggal pada tanggal 19 Januari 1973,
bertepatan dengan 14 Zulhijjah 1392 Hijrah, jam 02.45. Beliau berpulang ke
rahmatullah dalam usia 90 tahun di Krueng Kalee, desa Siem, kecamatan
Darussalam-Aceh Besar. Oleh sebab itu, nama Tgk.H.Hasan Krueng Kalee yang
dikenal oleh masyarakat kecamatan Darussalam khususnya dan masyarakat Aceh
umumnya adalah dinisbahkan kepada daerah tempat beliau mendirikan dayah serta
tempat beliau meninggal. Tgk.H.Hasan Krueng Kalee juga dikenal dengan
Tgk.H.Syekh Hasan Krueng Kalee atau juga dikenal dengan nama panggilannya Tgk
Dian. Beliau hanya mempunyai seorang saudara laki-laki, namanya Tgk.Syekh Abdul
Wahab. Beliau ini tidak mempunyai keturunan karena sudah meninggal dunia di
Mekkah sebelum sempat berkeluarga.
Sejak kecil Tgk. Haji Hasan Krueng Kalee sudah mendapatkan pendidikan agama
dari ibunya sendiri disamping ayahnya Teungku Haji Muhammad Hanafiah, terutama
membaca Al-Qur’an dan lain-lain. Ibunya juga seorang anak ulama yaitu Nyakti
Hafsah binti Tgk Syaikh Ismail Krueng Kalee. Ketika dalam pengasingan tersebut,
beliau belajar pengetahuan dasar agama langsung dari kedua orangtuanya sambil berpindah-pindah
dari satu tempat ke tempat lain di daerah pengungsian.
Dan setelah mempunyai pengetahuan dasar tentang agama Islam yang memadai,
bahasa Arab, sejarah Islam dan lain-lain, pada tahun 1906 M, Tgk H.Hasan Krueng
Kalee yang telah menjadi remaja berangkat ke Yan, Keudah – Malaysia untuk memperdalam
ilmu pengetahuan yang telah beliau pelajari sebelumnya. Beliau dikirim kesana
oleh ayahnya untuk melanjutkan pendidikannya di Dayah Yan yang pada waktu itu
dipimpin oleh Tgk.H.Muhammad Arsyad, seorang ulama besar yang berasal dari
Kerajaan Aceh Darussalam. Tgk.H.Muhammad Arsyad adalah teman pengajian ayahnya
dulu sewaktu di Lamnyong. Selain itu, keberangkatan beliau ke Keudah juga atas
dorongan Teuku Raja Keumala dan Tgk Syaikh Ibrahim Lambhuk. Disana beliau
memperdalam ilmu pengetahuan selama beberapa tahun. Dayah Yan di Keudah sudah
sejak lama menjadi pusat pendidikan Islam di Semenanjung tanah Melayu. Para
sultan Kerajaan Aceh Darusssalam mengirim ulama-ulama besar kesana untuk
membangun dayah sebagai lembaga pendidikan utama untuk daerah-daerah Tanah
Seberang. Sebagaimana diketahui bahwa dalam abad ke-16 dan 17, terutama dalam
masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam (1016-1045 H, atau
1607-1636), sebagian besar semenanjung tanah melayu, termasuk Kedah, berada
dibawah perlindungan Kerajaan Aceh Darussalam. Demikianlah, Dayah Yan berjalan
baik dari zaman ke zaman, sehingga pecah peperangan di Aceh antara Kerajaan
Aceh dengan Kerajaan Belanda. Dan setelah pecah peperangan yang dahsyat itu, maka
sejumlah ulama-ulama besar hijrah ke Keudah, yang tidak diminta untuk memimpin
peperangan, sehingga Dayah Yan waktu itu menjadi pusat pendidkan Islam, juga
untuk putri-putri Aceh yang wilayah negaranya sedang dibakar api peperangan. Setelah
menamatkan studinya di Dayah Yan, Tgk H.Hasan Krueng Kalee yang telah mempunyai
pengetahuan agama dan bahasa arab yang cukup, atas persetujuan gurunya pada
tahun 1910 berangkat ke tanah suci dalam rangka menunaikan Ibadah H. serta
untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi pada pusat pendidikan Islam di
Masjidil Haram Makkah. Disana beliau belajar selama lima tahun, dan yang
menjadi gurunya merupakan ulama-ulama besar yang menjadi masyaikh (para guru
besar) dalam Masjidil Haram dan sangat terkenal di kota Mekkah. Diantara
guru-guru beliau tersebut adalah Syaikh Said Al-Yamani Umar bin Fadil, Syaikh
Khalifah, Syaikh Said Abi Bakar Ad-Dimyaty dan Syaikh Yusuf An-Nabhany dan
sebagainya. Selain pengetahuan Islam secara umum, pemuda Hasan khusus mendalami
ilmu tauhid, fiqh (hukum Islam), tafsir, ilmu falaq, ilmu tasawwuf, dan sejarah
Islam, dimana akhirnya Tgk H.Hasan Krueng Kalee mendapat ijazah dalam ilmu-ilmu
tersebut, sehingga karena dia telah boleh memakai lakab ulama di muka namanya.
Di tiap-tiap jenjang lamanya Tgk H.Hasan Krueng Kalee belajar tujuh tahun
sehingga sampai dapat membaca Fathul Mu’in, Minhajul ’Abidin, serta sudah bisa
membaca kitan Mahally (Qalyubi wa ‘Umairah) dan Fathul Wahab. Setelah menempuh
pendidikan sekitar enam tahun di Mekkah, Tgk H.Hasan Krueng Kalee pulang ke
tanah air. Sekembali beliau tersebut pada tahun 1916 beliau langsung mengambil
alih pimpinan Dayah Krueng Kalee yang sejak peperangan dengan Belanda tidak
terurus lagi. Dengan semangat baru yang dihasilkan dari pendidikan selama bertahun-tahun
di Mekkah dan didorong oleh jiwa mudanya Tgk.H.M.Hasan Krueng Kalee membangun
kembali Dayah tersebut. Dalam waktu singkat, Dayah Krueng Kalee telah berubah
menjadi pusat pendidikan agama Islam terbesar di Aceh sejajar dengan nama-nama
besar lainnya seperti; Dayah Tanoh Abee, Dayah Lambirah, Dayah Rumpet, Dayah
Jeureula, Dayah Indrapuri, Dayah Pante Geulima, Dayah Tiro dan Dayah Samalanga.
Menjadi Ulama Besar Di Aceh.
Tgk H.Hasan Krueng Kalee dapat di katagorikan sebagai ulama, karena beliau sejak
usia muda sudah memimpin Dayah Krueng Kalee sampai berpulang ke rahmatillah.
Disamping itu beliau sudah menjadi ulama di Mekah dengan gelar syeih Hasan
Al-Falaqy, karena beliau bukan hanya menguasai ilmu agama saja, akan tetapi
ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu falak, sejarah Islam. Selama di Mekkah beliau
beliau mempelajri ilmu agama, ilmu tabib, ilmu handasah. Menurut Prof A.
Hasjmy, selain usaha yang telah disebutkan diatas juga Tgk H.Hasan krueng Kalee
mengadakan pengajian, sebagai juru dakwah, pemberantas bid’ah dan khurafat. Untuk
itu beliau selalu berusaha bekerja sama dengan masyarakat, membangun dan
memperbaiki mesjid yang telah rusak selama perang Aceh seperti Mesjid Lamnyong,
juga bekerja sama dengan ulama-ulama, baik mengadakan pengajian-pengajian.
Dalam pengajjian tersebut beliau selalu menceritakan dan menasehatkan
masyarakat untuk giat mengerjakan yang baik dan berguna serta menjahui
perbuatan-perbuatan yang buruk sesuai dengan ketetuan Islam dan sesudah
pengajian selesai beliau selalu memberi kesempatan untuk berdiskusi.Setelah
beberapa tahun Tgk Haji Hasan Krueng Kalee membina pendidikan di pesantren
Luhur Kreung Kalee dengan menitik beratkan pada ajaran Islam, yaitu ilmu
Tauhid, Akhlaq, Fiqh, Tafsir dan Tasauwuf dan Al-Qur’an Al-karim serta beberapa
ilmu lain. Tgk H.Hasan Krueng Kalee hanya mengajar pada tinngkat tinggi,
sedangkan pada tingkat rendah diajarkan oleh Tgk dirangkang dan Tgk dibalee.
Dan beliau mulai memberantas bid’ah dan Khurafat yang timbul dalam masyarakat.Dari
hasil usaha beliau itu secara sedikit demi sedikit penyimpangan- penyimpangan
ajaran agama berangsur kurang, namun sampai saat sekarang masih juga terdapat
hal-hal yang telah penulis sebutkan diatas. Tetapi tidak seperti sebelum adanya
usaha-usaha yang digerakkan oleh almarhum Tgk Haji Hasan Krueng Kalee.Sebagai
contoh keberhasilan beliau memberantas khurafat, ialah tradisi boros dan tidak
sesuai dengan ajaran agama, yaitu upacara kenduri besar-besaran diwaktu turun
ke sawah yang dilakukan oleh masyarakat kemukiman Lamblang, kecamatan Kuta
Baro, Aceh Besar dengan menyembelih seekor sapi berwarna hitam. Sebelum upacara
penyembelihan sapi itu diseret ke sebuah kolam yang airnya agak dalam, kemudian
bila sapi itu mendarat dipukul sampai berdarah, begitulah keadaan sapi tersebut
yang sudah diseret kedalam kolam, ketika mendarat dipukul, sehingga air kolam
itu bercampur dengan darah atau menjadi merah. Setelah sapi itu luka-luka,
barulah disembelih secara benar dan dagingnya dibagi-bagi kepada
kelompok-kelompok tani yang ada di sekitar sawah tempat kejadian itu. Mereka
beranggapan bahwa darah sapi yang mengalir ke sawah bersama air kolam tersebut
member berkat dan panennya akan bertambah. Setelah upacara penyembelihan sapi
tersebut, diadakan pantang selama tujuh hari tujuh malam. Maka pada tiap-tiap
tahun turun ke sawah mereka memuja kolam itu supaya airnya tetap mengalir
sehingga mereka bias menanam padi dengan menyembelih seekor sapi berwarna
hitam. Tidak boleh siapapun mengerjakan sawah di sekitar itu, selama batas
waktu yang telah ditentukan. Jika ada orang yang melanggar peraturan tersebut,
maka ia didenda dengan seekor sapi untuk mengulangi kenduri tersebut. Tetapi
andai kata ada orang yang baru datang ke wilayah tersebut tidak mengetahuinya
maka dendanya cukup dengan satu hidangan ketan (sepuluh bamboo beras ketan).
Akhirnya beliau memperhatikan tradisi buruk didalam masyarakat bertentangan
dengan ajaran agama, maka beliau memanggil pemuka-pemuka masyrakat dalam tiga
kemukiman kecamatan Kuta Baro dan sekitarnya untuk diberikan penjelasan dari
akibat tindakan atau kepercayaan yang salah itu, maka Tgk Haji Hasan Krueng
Kalee, pada suatu hari datang ke tempat diadakan kenduri itu, untuk menyembelih
sapi tersebut dengan baik, sambil membatalkan segala pantangannya dan melarang semua
tatacara penyembelihan yang sudah teradat pada diri mereka. Demikianlah usaha
dan kegiatan Tgk H.Hasan Krueng Kalee dalam membina masyarakat dengan
mengikutsertakan tokoh-tokoh masyarakat dan ulama lainnya, baik dibidang ibadah
maupun dibidang pemberantasan khurafat.
Pada tahun 2007, senin 7 Mai, bertepatan dengan 19 Rabiul Akhir 1438 H. Sebuah
forum tingkat tinggi ulama Aceh menggelar pertemuan kedua di Mesjid Raya
Baiturrahman; pada pertemuan yang menghadirkan ratusan ulama Aceh ini
menyimpulkan bahwa ada empat ulama Aceh yang telah sampai pada tingkat
ma’rifatullah . Keempat ulama itu, masing-masing Syaikh Abdurrauf As-Singkili,
Hamzah Fansuri, Tgk Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee dan Tgk Syaikh H.Muhammad
Waly Al-Khalidy atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tgk H Muda Waly. Hadir
dalam pertemuan tersebut diantaranya adalah: Tgk Jamaluddin Waly, Tgk Natsir
Waly, Abu Panton(Abu Ibrahim Panton), Kadis Syari’at Islam Prof Al Yasa’ Abu
Bakar dan seratusan ulama Aceh lainnya. Pada pertemuan ini, Prof Syahrizal
Abbas dari IAIN Ar-Raniry Banda Aceh bertindak sebagai pemandu acara.
Pelopor
Pendidikan Islam Di Aceh
A. Merintis Dayah Krueng Kalee
Setelah Belanda berhasil menduduki kota-kota dan sebagian besar tanah Aceh,
sekalipun peperangan masih berkecamuk dan Aceh tidak pernah mau menyerahkan
kedaulatannya kepada Belanda, sebagian ulama ditugaskan agar melapor kepada
pemimpin pentadbiran tentara Belanda untuk membangun pusat pendidikan (dayah)
kembali, sementara sebagian yang lain terus memeimpin perang gerilya. Dalam
rangka melaksanakan kebijaksanaan baru dari pucuk pimpinan perang gerilya Aceh
yang telah dipegang oleh ulama Tiro, dimana sebagian ulama tetap memimpin
peperangan di hutan-hutan dan di daerah-daerah pedalaman yang luas, sementara
sebagian ulama yang lain ditugaskan untuk melanjutkan peperangan dengan bentuk
baru, yaitu membangun dayah-dayah kembali, maka semenjak tahun 1904 mulailah
dibangun kembali dayah-dayah yang telah porak-poranda akibat peperngan,
diantaranya Dayah Krueng Kalee. Demikianlah, dalam tahun 1916 Tgk Haji Hasan
yang telah menjadi ulama setelah kembali dari Makkah mengambil alih pimpinan
Dayah Krueng Kalee yang hampir-hampir tidak terurus lagi.
Dengan semangat baru yang dibawa dari Makkah dan dengan dorongan keras usia
yang baru 30 tahun, Tgk H.Hasan Krueng Kalee mencoba membangun kembali dayah
Krueng Kalee dalam arti yang sungguh-sungguh, sehingga dalam waktu yang singkat
dayah Krueng Kalee telah menjadi sebuah pusat pendidikkan Islam yang besar di
Aceh, dan termasuk dalam deretan nama beberapa dayah manyang (pesantren luhur),
seperti: Dayah Tanoh Abee, Dayah Lambirah, Dayah Rumpet, Dayah Jeureula, Dayah
Indrapuri, Dayah Pante Geulima, Dayah Tiro, Dan Dayah Samalanga.
Sebagai dayah manyang, dibawah pimpinan Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, yang
sekarang lebih terkenal dengan lakab: Teungku Chik Krueng Kalee, maka dayah
Krueng Kalee telah menghasilakan sejumlah ulama yang telah kembali ke
kampungnya masing-masing terus mendirikan dayah-dayah tingkat rendah dan
menengah.. Sebagai seorang ulama yang memimpin pusat pendidikan Islam, Tgk
H.Hasan Krueng Kalee menganut aliran Ahlu Sunnah dan sebagai orang taSAWwuf
beliau menganut tareqat Haddadiyah, yaitu tareqat yang berpangkal kepada Said
Abdullah Alhadad. Pada tanggal 1 dan 2 Oktober 1932 (30 Jumadil awal-1 Jumadi
akhir 1351 H.), Tgk H.Hasan Krueng Kalee ikut dalam Musyawarah Pendidikan Islam
yang diadakan di Lubuk Banda Aceh. Pertemuan ini membicarakan masalah
pembaharuan dan perbaikan sistem pedidikan Islam. Diantara para ulama yang
menjadi peserta musyawarah tersebut adalah: Teungku Haji Hasballah Indrapuri,
Teungku Haji Abdul Wahab Seulimum, Teungku Muhammad Daud Beureueh, Teungku
Muhammad Hasby Ash-shiddiqy, Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, Teungku Haji Abdullah
Ujong Rimba, Teungku Haji Hasballah Pase, Teungku Jalaluddin Amin Sungai
Limpah, Teungku Haji Abdullah Lam U, Teungku Zakaria Teupin Raya, Teungku Usman
Gigieng, Teungku Muhammad Amin Jumphoh, Teungku Haji Umar Meureudu, Teungku
Haji Muhammad Alue, Teungku Muhammad Saleh Iboih, dan Teungku Haji
Trienggadeng.Diantara keputusan-keputusan yang diambil ‘Musyawarah Pendidikan
Islam’ tersebut, yaitu:
1. Tiada sekali-kali terlarang dalam agama Islam, kita mempelajari ilmu
keduniaan yang tidak berlawanan dengan syariat, malah wajib dan tidak layak
ditinggalkan untuk mempelajarinya.
2. Memasukkan pelajaran-pelajaran umum itu ke sekolah-sekolah agama memang
menjadi hajat sekolah-sekolah itu.
3. Orang perempuan berguru kepada orang laki-laki itu tidak ada halangan dan
tidak tercegah pada syarak. Timbul pertanyaan: mengapa beliau tidak juga atau
belum bersedia memasukkan perubahan sistem pendidikan ke dalam dayah Krueng
Kalee yang dipimpinnya? Bahkan sampai saat beliau meninggal dunia! Mungkin ada
sesuatu perimbangan yang menurut beliau belum waktunya. Wallahu A’lam!Dayah
Krueng Kalee, merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah banyak
menciptakan kader-kader dakwah, pendidik, ulama dan pemimpin umat, seperti yang
telah kami kemukakan dalam uraian yang lalu, bahwa dayah tersebut, disamping
aktif menggerakkan pendidikan Islam dikalangan masyarakat, juga aktif melakukan
pembinaan kader ulama dan pemimpin masyarakat.
Sebagai lembaga pendidikan, dayah Krueng Kalee ini, sebenarnya lebih banyak
berperan dibandingkan dengan lembaga pendidikan formal seperti sekolah yang
didirikan oleh pemerintah Belanda pada waktu itu. Sekolah pada waktu itu tidak
sanggup mengemban tugas, menampung semua lapisan masyarakat, karena ketentuan
yang digariskan penjajah Belanda yang membatasi kesempatan bersekolah bagi
masyarakat luas, atas dasar kepentingan penjajah. Dengan demikian dayah sebagai
pendidikan Islam yang terdapat di pedesaan, terutama dalam mempelajari
ilmu-ilmu yang menyangkut dengan masalah agama Islam.
Tahun 1904 dapat dianggap sebagai kebangkitan kembali dayah-dayah tradisional
yang sebelumnya telah hancur pada saat peperangan fisik melawan Belanda. Di
antara dayah yang dibangun tersebut adalah Dayah Krueng Kalee. Sekembali
Tgk.H.M.Hasan Krueng Kalee dari Mekkah pada tahun 1916 beliau mengambil alih
pimpinan Dayah Krueng Kalee yang sejak peperangan dengan Belanda tidak terurus
lagi. Dengan semangat baru yang dihasilkan dari pendidikan selama
bertahun-tahun di Mekkah dan didorong oleh jiwa mudanya Tgk.H.M.Hasan Krueng
Kalee membangun kembali Dayah Krueng Kalee dengan arti yang sesungguhnya. Dalam
waktu singkat, Dayah Krueng Kalee telah menjadi pusat pendidikan agama Islam
yang besar di Aceh sejajar seperti nama-nama seperti; Dayah Tanoh Abee, Dayah
Lambirah, Dayah Rumpet, Dayah Jeureula, Dayah Indrapuri, Dayah Pante Geulima,
Dayah Tiro dan Dayah Samalanga.
Menurut keterangan hasil dari wawancara tim penulis dengan murid-murid beliau
yang masih hidup, Tgk.H.M.Hasan Krueng Kalee adalah seorang ulama Tassawuf yang
menganut aliran tarekat Haddadiyah, yaitu tarekat yang berpangkal dari Said
Abdullah Al-Haddad. Aliran ini termasuk paham yang keras dan sangat sulit untuk
melakukan pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan.
Proses pendirian dayah Krueng Kalee dimulai dari mendirikan pondok-pondok dari
batang bambu, batang kelapa dan atap rumbia dengan tidak pernah hilang tujuan.
Sebagai seorang ulama yang mewarisi para nabi dengan keyakinan yang kokoh
itulah sebabnya beliau mendirikan dayah yang diberi nama Dayah Luhur Krueng
Kalee. Pembangunan dayah tersebut dibantu oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat
yang tergugah kekhawatiran akan suramnya masa depan agama Islam. Mereka melihat
realitas dalam masyarakat sekitarnya, dimana masyarakat pada waktu itu sebagian
besar telah menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.
Dari keterangan diatas jelas bahwa proses pendiriannya dimulai dari fasilitas
yang sangat minimdan sederhana, partisipasi tokoh-tokoh masyarakat sangat
tinggi karena mereka mendambakan agar agama Islam menjadi petunjuk dalam
mengarungi kehidupan bagi generasi yang akan datang. Kemajuan suatu dayah
sangat tergantung kepada ulama yang memimpin dayah itu, bukan kepada nama dayah
itu sendiri, oleh karena itu kita mengetahui mengapa seorang santri itu pergi
belajar ked ayah yang jauh, sedangkan di dekatnya ada dayah pula. Hal ini
menunjukkan adanya kebebasan untuk memilih guru dan ilmu yang dipilih
seseorang.
Berdasarkan kutipan diatas jelas bahwa kemajuan suatu dayah sangat tergantung
pada pemimpin itu sendiri. Adapun tujuan utama didirikan dayah tersebut adalah
untuk meningkatkan pendidikan ini dikalangan masyarakat. Hal ini seperti yang
telah dikemukakan oleh Prof. A. Hasjmy dalam tulisannya: peranan agama Islam
dalam perang Aceh dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau mengatakan bahwa
“pendidikan islam telah mengambil tempat dalam pembangunan bangsa yang dimulai
dengan berdirinya pusat pendidikan dayah Cot Kala, yang kemudian berkembang di
seluruh Aceh”.
Menurut sumber diatas tidak dapat diragukan lagi bahwa kader-kader Islam yang
tampil dimasa lalu, ditempa melalui dayah yang berkembang di seluruh Aceh.
Selanjutnya menurut informasi yang diperoleh bahwa dayah luhur Krueng Kalee
juga telah mendidik masyarakat dalam bidang pendidikan agama Islam dan untuk
mencetak kader-kader ulama dan da’i. Dapat dipahami bahwa dengan tampilnya
dayah luhur Krueng Kalee ditengah-tengah masyarakat telah dapat membawa hikmah
keagmaan yang sangat besar bagi masyarakat Aceh, bahkan ke daerah-daerah lain,
tidak sedikit dari mereka menjadi pemimpin formal dan informal di daerahnya
seperti menjadi keuchik, imam masjid, imam menasah, guru pengajian, penceramah
dan paling tidak mereka menjadi tuha peut, pokoknya mereka turut
mendarmabaktikan ilmunya untuk kemajuan masyarakat.Dayah Krueng Kalee memiliki
ciri khas yaitu lebih menitikberatkan kepada pengetahuan Islam, ciri khas lain,
disiplin dan tempaan keras mengenai menuntut ilmu sebagai ibadah.karena kedudukan
oarng yang berilmu didalam agama Islam jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan
Rasulullah SAW pernah menjelaskan dalam sabdanya yang berbunyi: “seseorang yang
menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan jalan untuknya
menuju Syurga. Dan sesungguhnya para malaikat akan membentang sayapnya, karena
senang bagi penuntut ilmu dan orang yang berilmu akan diminta ampun oleh segala
apa yang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan di laut, kelebihan oarng yang
berilmu atas oaring yang beribadah sama seperti kelebihan bulan purnama atas
bintang-bintang lainnya. Ajaran inilah yang menjadi anutan bagi Tgk Haji Hasan
Krueng Kalee, sehingga ia yang berbeda dari pendidikan umum lainnya. Sedangkan
materi yang beliau ajarkan didayah tersebut meliputi antara lain: Al-Qur’an Al-
Karim, ilmu Tauhid, Hadis, Tafsir ilmu Ma’any, ilmu Bayan, ilmu Badi’, ilmu
Falaq, Nahu, Sharaf dan Sejarah Islam.
B. Dayah Krueng Kalee sebagai Lembaga Pendidikan Islam
Selama hayatnya Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, sebenarnya lebih banyak bertekun
menangani bidang pendidikan Islam. Beliau berupaya mewujutkan cita-cita
mengembangkan agama, dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan dalam bentuk
dayah. Masyarakat Aceh Besar pada umumnya menyebutkan Dayah luhur Krueng Kalee
sebagai salah satu dayah yang popular dan cukup disegani. Dayah ini berlokasi
di desa Siem-Krueng Kalee, kacamatan Darussalam, kabupaten Aceh Besar,
kira-kira tujuh km dari Kopelma Darussalam(lokasi kampus IAIN Ar-Raniry dan
Unsyiah sekarang). Dimasa lalu dayah merupakan satu-satunya lembaga pendidikan
agama di Aceh. Dayah berperan untuk memelihara dan mengembangkan eksistensi
ilmu agama di kalangan masyarakat Aceh. Mereka sangat menghargai para ulama
yang berdedikasi, tanpa mengenal lelah dalam membina kepribadian orang Islam
yang berlandaskan kebenaran agama Islam melalui dayah-dayah. Ulama-ulama ini
pulalah yang telah ikut berperan membentuk kader-kader pejuang, yang mengusir
belanda dari Aceh khususnya dari Indonesia pada umumnya sampai pada masa
penjajahan Jepang, serta memperthankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Oleh
karena itu tidak dapat disangkal,betapa besarnya peranan dayah dalam memurnikan
ajaran Islam dan mengembangkan semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Lembaga-lembaga pendidikan tersebut telah sanggup mencetak kader-kader dan
pejuang-pejuang kemerdekaan yang bersemangat tinggi. Dengan demikian jelas
bahwa dayah berperan antara lain sebagai lembaga pendidikan dan pembina kader.
C. Mendidik Kader Ulama Aceh
Menurut sejarah, sejak berdirinya Dayah Krueng Kalee telah banyak menghasilkan
kader-kader pendidik, da’i dan ulama yang dibekali dengan berbagai ilmu
pengetahuan, baik bidang aqidah, syariat dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Mereka
tersebar di seantaro Aceh menjadi mercusuar dalam lapangan keilmuan Islam. Saat
tim penyusun buku ini menelusuri jejak Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, beberapa
Ulama Aceh yang pernah menjadi murid almarhum Tgk H.Hasan Krueng Kalee tim
penulis mendapati mereka sebagai orang-orang yang sangat disegani di daerahnya
karena keaktifan mereka mengajarkan ilmu Agama kepada masyarakat.
Dintara ulama-ulama dari murid-murid Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, yang cukup
terkenal di daerahnya masih masing antara lain dapat disebutkan:
1. Teungku Ahmad Pante, ulama dan imam masjid Baiturrahman Banda Aceh.
2. Teungku Hasan Keubok, ulama dan Qadhi XXVI mukim di Aceh Besar.
3. Teungku M. Saleh Lambhouk, ulama dan imam masjid Raya Baiturrahman Banda
Aceh.
4. Teungku Abdul Jalil Bayu, ulama dan pemimpin dayah Al-Huda Aceh Utara.
5. Teungku Sulaiaman Lhoksukon, ulama dan pendiri dayah Lhoksukon, Aceh utara.
6. Teungku M. Yusuf Peureulak, ulama dan ketua majlis ulama Aceh Timur.
7. Teungku Mahmud Simpang Ulim, ulama dan pendiri dayah Simpang Ulim, Aceh
Timur.
8. Teungku Haji Muda Waly Labuhan Haji, ulama dan pendiri dayah Darussalam,
Labuhan Haji, Aceh Selatan
9. Teungku Syeh Mud Blang Pidie, ulama dan pendiri dayah Blang Pidie Aceh
Selatan.
10. Syeh Shihabuddin, ulama dan pendiri dayah Darussalam Medan, Sumatera Utara.
11. Kolonel Nurdin, bekas Bupati Aceh Timur, yaitu anak angkat beliau sendiri.
12. Teungku Ishaq Lambaro Kaphee, ulama dan pendiri dayah Ulee Titie.
Dari data di atas jelas bahwa murid Tgk H.Hasan Krueng Kalee pada umumnya mengikuti
jejak gurunya, menjadi ulama yang membuka dayah di tempat mereka masing-masing
hampir ke seluruh pelosok. Dengan demikian jelas Tgk Haji Hasan Krueng Kalee,
ulama besar di Aceh, yang terkenal kemana-mana karena banyak diantara
murid-murid beliau yang membuka dayah di tempatnya masing-masing. Hal ini
diakui oleh warga masyarakat kecamatan Darussalam sendiri, dayah Luhur Krueng
Kalee sebagaimana dayah lain juga telah mencetak kader-kader pemimpin umat baik
yang formal maupun informal dalam masyarakat.
Tgk Haji Hasan Krueng Kalee melaui dayahnya tidak pernah berpangku tangan dalam
meneruskan dan melaksanakan fungsinya kapan dan dimana saja. Hal itu terbukti
dimana dayah beliau tersebut telah banyak mencetak ulama-ulama yang mengabdi
dietngah-tengah masyarakat, dengan keikutsertaan dayah Luhur Krueng Kalee
beserta ulamanya dalam membina pendidikan agama Islam dikalangan masyarakat.
Maka sebagian besar penduduk kecamatan Darussalam telah memperoleh pendidikan
terutama bagi generasi muda.
Semasa hidupnya Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, telah membina kader-kader ulama
melalui jalur jalur pendidikan dayah, dan juga dalam jalur organisasi yang
dipimpinnya. Diantaranya beliau termasuk juga tokoh yang mengembangkan
organisasi P.I. Perti (Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islamiyah), danmengembangkan
tareqatnya yang bernama “Tarekat Said Abdullah Al-Hadad r.a.” yang menurut
keterngan Al-Ustaz Muhammad Asyik Mu’in bahwa ratib Al-Hadad yang dikembangkan
oleh almarhum Tgk H.Hasan Krueng Kalee adalah melulu mengucapakan laa ilaha
illa Allah yang meliputi istighfar, tahlil dan tahmid. Selain itu, dimasa
perjuangan Tgk H.Hasan Krueng Kalee dapat dikatagorikan sebagai perintis
kemerdekaan, karena beliau merupakan salah seorang pemimpin dari barisan
Mujahidin di daerah Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Kemudian beliau terpilih
menjadi anggota konstituante Republik Indonesia dari partai islam Perti.
Kiprah Tgk H.Hasan Krueng Kalee baik dalam bidang pendidikan maupun politik
sangat besar artinya bagi kemajuan Aceh. Beliau memikirkan kemajuan Aceh hingga
akhir hayat, dan meninggal pada tanggal 19 Januari 1973 dengan meninggalkan
tiga orang istri, yaitu Teungku Nyak Safiah di Krungkale, Teungku Nyak Aisyah
di Krungkale, dan Teungku Nyak Awan di Lamseuneung. Dari tiga istri ini beliau
memperoleh tiga belas orang anak 8 pria dan 5 wanita.
Beliau disamping aktif mempelopori pendidikan Islam di Aceh melalui jalur
dayah, juga pernah memegang peranan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,
dalam rangka mempertahankan Indonesia merdeka melawan Belanda dengan seruan
jihad fi sabilillah. Dengan demikian ulama seperti Tgk Haji Hasan Krueng Kalee,
mempunyai peranan penting dalam memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan. Menurut
Prof. Dr. Hamka menilai bahwa dengan adanya ulama dapat merintis melangkah
lebih maju, dalam mengisi kemerdekaan, yang maksudnya untuk saling mendekati.
Dengan ini terbukti niat bersama untuk membangun Negara, rohani dan materi.
Pemerintah dan ulama saling membutuhkan. Dengan beberapa catatan diatas, maka
Tgk H.Hasan Kruengkalee dapat di katagorikan sebagai ulama besar di Aceh
sepanjang masa, karena beliau sejak usia muda sudah merintis pendidikan Islam
di Aceh dengan memimpin sebuah lembaga pendidikan islam terbesar dan termashur
di Aceh hingga beliau berpulang ke rahmatullah. Disamping posisi beliau sebagai
seorang ulama besar di Aceh, saat itu beliau juga dikenal sebagai ulama di
Mekkah dengan gelar Syaikh Hasan Al-Falaqy(berdasarkan pengakuan murid-murid
beliau yang masih hidup). Beliau tidak hanya menguasai ilmu agama, akan tetapi
beliau juga terampil dengan khazanah keilmuan yang lain seperti ilmu falak,
sejarah Islam dan sebagainya. Selama di Mekkah, beliau juga mempelajari ilmu
tabib(kedokteran), ilmu handasah(arsitektur). Menurut Prof A. Hasjmy,
Tgk.H.Hasan Kruengkalee sangat eksis mengadakan pengajian, sebagai juru dakwah,
pemberantas bid’ah dan khurafat dan sebagainya. Itulah sepintas sosok beliau
yang pada tahun lalu Majlis Pendidikan Daerah(MPD) Aceh memberikan beliau gelar
sebagai tokoh pendidikan Aceh saat acara peringatan Hari Pendidikan Daerah (HARDIKDA).
KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa:
1. Tgk.H.Hasan Krueng Kalee merupakan seorang ulama besar di Aceh
2. Tgk.H.Hasan Krueng Kalee sangat aktif membina masyarakat Aceh untuk mengenal
lebih jauh tentang agama Islam, baik dalam bidang akidah, akhlak dan berbagai
ilmu agama dan pengetahuan lainnya.
3. Tgk.H.Hasan Krueng Kalee melalui dayah Krueng Kalee telah mendidik banyak
kader ulama yang tersebar di seantaro Aceh.
4. Tgk.H.Hasan Krueng Kalee merupakan pelopor pendidikan Islam di Aceh.
5. Tgk.H.Hasan Krueng Kalee memperoleh gelar sebagai tokoh pendidikan Aceh yang
diberikan oleh Majlis Pendidikan Daerah(MPD) Aceh.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Daud Sulaiman, Al-imam Hafid, Sunan Abi Daud, Juz. II, Cet. I. (Mesir:
Syirkah Maktabah wa mathba’ah Isa- baby Al- Halaby), 1952.
Fauziah Ibrahim, Tgk H.Hasan Krueng Kalee Sebagai Tokoh Pendidikan Islam di
Aceh, Skripsi, 1986.
Hasjmy, Prof. A, Peranan Islam dalam perang Aceh dan perjuangan Kemerdekaan
Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang), 1976.
Hasballah Saleh, Teungku, Tgk Haji Hasan Krueng Kalee,
santunan, No.
19, Mei 1978.
Hamka (H. Abd.MalikKarim Amrullah), Ulama dan Pembangunan, cet. II, Cemara
Indah, Jakarta, 1976
Herry Mohammad, Dkk, Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh
Abad 20,
(Jakarta: Gema Insani), 2006.
Ibrahim Husen, persepsi Kalangan Dayah Terhadap Pendidikan Tinggi di Aceh,
(Sinar Darussalam, No. 146), Maret/April 1985.
Muhammad Said, Atjeh Sepanjang Abad, Jilid I, 1961, hal. 111.
Shabri A, dkk, Biografi Ulama-Ulama Aceh Abad XX, (Banda Aceh: Dinas Pendidikan
Prop.NAD, 2007.
Sumber lain:
- Sebagian besar referensi atau data-data dalam penulisan
makalah ini
penulis peroleh dari hasil wawancara Fauziah Ibrahim dengan keluarga Tgk
H.Hasan Krueng Kalee, dan juga wawancara penulis sendiri saat penulis mengajar
di Dayah Darul Ihsan Tgk.H.Hasan Kruengkalee untuk keperluan arsip yayasan
Darul Ihsan. Sebagian data ini juga penulis peroleh dari tokoh-tokoh ulama dan
tokoh masyarakat yang pernah menimba ilmu sama beliau, seperti: Abu Idris
Lamnyong, Tgk.H.Daud Zamzami(Wakil Ketua Majlis Permusyawaratan Ulama/MPU
Aceh), Tgk H.Yusuf Matangkuli(Abu Ceubrek), serta dari berbagai sumber pustaka
lainnya.
-Berita Serambi Indonesia, Senin, 7 Mai 2007.
- Berita MPD Aceh
- Risalah Verslag Pertemoean Oelama-oelama (Banda Aceh: Jami’ah AI slahiah
Sungai Limpah, 1937).